Ahad, Mei 31, 2009

Senyum Untuk Calon Penulis

Judul buku ini sangat menarik dan sangat spesifik dalam menentukan siapa kira-kira target pembaca buku ini. Dari judulnya yang spesifik pembaca akan segera mengetahui apa kira-kira yang terdapat dalam isi buku ini dan berharap bahwa buku ini akan menjawab berbagai pertanyaan yang selalu muncul dalam benak seseorang ketika ia akan menulis.

Dalam benak seorang yang ingin menulis biasanya akan selalu timbul pertanyaan-pertanyaan seperti : Mengapa harus menulis ? apa yang harus ditulis?, untuk siapa, dimana, dan bagaimana menulis dengan baik?. Buku kumpulan tulisan dari penulis sekaligus penyair senior Eka Budianta ini mencoba untuk menjawab semua pertanyaan-pertanyaan diatas. Buku ini memang bukan buku panduan praktis bagaimana menulis dengan benar. Lebih dari itu! Buku ini mencoba mengajak , memotivasi dan menginspirasi siapa saja yang ingin agar tulisan-tulisannya lebih menyala seperti bermacam-macam lampu, dapat mengeluarkan berbagai aroma dan bau, menyalurkan bermacam perasaan takut, memberi semangat, mengejutkan bahkan membuat muntah pembaca.

Buku yang terdiri dari 25 tulisan ini dirangkai dari berbagai tulisan Eka Budianta dalam setiap makalah yang disajikannya diberbagai seminar dan diskusi dalam kurun waktu 4 tahun (1999-2002). Berbagai macam tema seputar dunia tulis menulis, buku, lingkungan hidup, sastra dan lain-lain mewarnai tulisan-tulisannya dalam buku ini. Dalam salah satu tulisan yang judulnya diangkat menjadi judul buku ini :Senyum untuk Calon Penulis. Eka menyampaikan beberapa pokok masalah dalam menulis.

Pokok pertama adalah : Selalu Ingat : Mengapa Anda menulis? Di sini Eka menegaskan niat dalam hati dalam menentukan tujuan menulis adalah hal yang paling penting dalam karya sastra. Bukan teknik, keindahan bahasa, plot, tetapi intinya. Isi cerpen, isi novel, isi puisi, itulah yang bicara (hal 195).

Kedua : Pentingkah: Kapan Anda Menulis? Bagi Eka kapan menulis bukanlah masalah, yang lebih penting adalah melihat isi atau pesan setiap pengarang. Bagi penulis-penulis besar pesan-pesan yang diampaikan biasanya akan abadi. Drama-drama Shakespeare tetap abadi hingga kini Walmiki dengan Epos Ramayana telah menulisnya 2500 tahun lalu di India. Dari segi usia kapan mulai menulis pun tak jadi persoalan asal tulisannya mengandung nilai-nilai abadi maka tulisannya akan bertahan lama. Kartini, Chiril Anwar, Moh. Hatta menulis di usia yang sangat muda namun apa yang ditulisnya tetap dibaca orang hingga kini.

Ketiga: Jiwa Merdeka dan Gembira. Modal utama seorang pengarang adalah jiwa yang merdeka. Dengan bebas berpikir dan berimajinasi, setiap penulis dapat melahirkan karya-karyanya. Namun Eka mengingatkan bahwa semakin besar kemerdekaan seorang penulis maka semakin besar juga tanggung jawabnya dan semakin perlu hati-hati.

Keempat : Bagaimana Menulis dan Apa isinya. Di sini Eka menceritakan pengalamannya menjadi asisten HB Jasin dalam menyeleksi karya-karya sastra. Walau suatu karya dinilai bagus oleh HB Jasin namun tak berarti karya tersebut bisa dipublikasikan, menurut Jassin seorang penulis membawa tugas sebagai \"guru\" bagi pembacanya, melalui tulisan, manusia bisa membongkar pikiran orang lain. Tapi bila penulis berhasil membongkar, tetntu penulis harus bisa merapihkannya.

Jika membaca semua tulisan yang terdapat dalam buku ini, akan terlihat bahwa buku ini sangat kaya akan cakupannya, bahasanya mudah dimengerti karena ditulis dengan gaya personal, tidak hanya persoalan tulis menulis yang dibahasnya namun mencakup bidang sastra, budaya, lingkungan, politik, dan lainnya. Dari segi keterbacaannya buku ini sangat mudah untuk dipahami karena Eka menulisnya dengan gaya personalnya yang khas.

Kesimpulannya, buku yang diberi pujian oleh 33 tokoh yang beragam profesinya ini setidaknya bisa memberikan inspirasi bagi mereka yang bergerak dalam dunia tulis menulis. Kritik terhadap buku ini ada pada pemilihan judul bukunya \"Senyum untuk Calon Penulis\", judul buku ini seolah membatasi bagi siapa buku ini diperuntukkan (calon penulis), padahal jika membaca seluruh tulisan yang terdapat dalam buku ini, buku ini bukan hanya untuk calon penulis saja melainkan bagi siapa saja yang berprofesi dan bergerak dalam dunia literer.

Rabu, Mei 20, 2009

Nak Jadi Jadi *Baru*

Dr. HM Tuah Iskandar al-Haj
RM10.00
Karya Bestari

SETIAP perbuatan yang kita lakukan adalah tanggungjawab kita sendiri. Sebelum melakukan sesuatu, fi kir dahulu kesan dan akibat daripada perbuatan kita itu.

Kali ini, DR. HM TUAH ISKANDAR al-Haj mengajak kita berfi kir dahulu sebelum melakukan sesuatu di dalam buku NAK JADI JADI dengan menggunakan pendekatan yang amat santai.

NAK JADI JADI mengajak kita berfikir dan perlukan usaha yang lebih untuk mendapatkan sesuatu. Kita tidak akan nampak hasilnya jika hanya pandai bercakap tetapi tiada usaha yang dilakukan untuk mencapai target tersebut. Setiap orang ada kelebihan masing-masing. Namun, ragam manusia sentiasa memberi alasan tiada kebolehan untuk melakukan sesuatu perkara.

Berhentilah memberi alasan kerana kita sebenarnya bukan tiada kelebihan tetapi tiada kekuatan untuk melakukan perkara tersebut. Jadi, besarkan kekuatan atau yang lebih tepat matlamat anda. Insya-ALLAH anda akan berjaya.

Beli di:
http://www.alaf21.com.my/page22.htm

Rabu, Mei 13, 2009

Ulama Besar dari Patani

Ahmad Fathy al-Fatani
RM45.00
Penerbit UKM

Negeri Patani termasuk antara beberapa buah negeri di Semenanjung Melayu yang melahirkan ramai para ulama. Nama-nama ulama dengan laqab al-Fatani ini cukup lumrah ditemui, apa lagi kalau kita rajin menyemak 'kitab-kitab kuning' karangan mereka.

Buku ini mengandungi sejumlah 40 tarjim ulama-ulama besar negeri Patani dalam jarak waktu antara penghujung abad ke-18 hingga penghujung abad ke-20, dimulai dengan tokoh pertama Syeikh Daud al-Fatani (wafat pada 1847) dan diakhiri dengan Ayah Dir (wafat pada 1991).

Sepanjang tempoh dua abad lebih sedikit ini, negeri Patani menyaksikan kemunculan ramai tokoh-tokoh ulama terkemukanya yang datang silih berganti mengambil tempat dan memainkan peranannya yang sangat besar dalam sejarah negerinya, tak hanya dalam bidang agama, akan tetapi juga dalam bidang ilmu, pemikiran, politik dan pembentukan sistem nilai dan budaya hidup masyarakatnya.

Patani (atau selatan Thai) hari ini lebih dikenali dari sisi-sisi negatif, tempat orang melepas nafsu, lubuk judi, sabung ayam mahupun laga orang. Dan pelbagai tanggapan negatif lagi.Sememangnya gambaran sedemikian amat mengecewakan orang Patani. Namun orang Patani harus menerimanya.

Jika dahulu Patani lebih tersohor sebagai pusat pendidikan Islam Nusantara yang dipelopori para ulama dan institusi pondoknya sejak abad ke-18 lagi. Kini era globalisasi dan pemodenan yang datang samaada dari Bangkok mahupun dari luar telah meminggirkan terus institusi pondok Patani dari arus perdana serantau sebagai tempat percambahan ilmu.

Hari ini kita tidak mendengar lagi akan karangan-karangan kitab baharu dari ulama Patani. Kering atau seolah-olah ulama Patani sudah berhenri tinta penanya. Bahkan Patani sebagai serambi Mekah semakin dilupakan. Mujur kitab-kitab 'kuning' peninggalan ulama berlaqab al-Fathani masih ditelaah sampai hari,sekurang-sekurangnya menjadi penyambung dalam megekalkan corak pemikiran Islam masyarakat Patani dari terhakis atau sekarang sedang dikikis oleh unsur-unsur tidak cocok dengan Islam.

Atas rasa tanggungjawab, penulis sejarah asal Patani, Ahmad Fathy al-Fatani menjelajah ke pondok-pondok dan melacak dari pelbagai sumber untuk menyusun sebuah buku yang menghimpunkan 15 biodata dan 25 lagi secara ringkas ulama Patani dalam rentang waktu antara penghujung abad ke-18 hingga akhir abad ke-20. Beliau pernah memimpin majalah Pengasoh sebagai editor dan menulis banyak makalah tentang Patani di media cetak.

Usahanya amat istimewa buat peminat sejarah Patani dan sangat penting untuk tatapan generasi baru Patani yang semakin hilang identitinya. Dalam buku terdahulu, Pengantar Sejarah Patani, Ahmad Fathy menjelaskan:" Di Patani saya perhatikan ramai anak-anak muda yang tidak tahu asal muasal mereka lagi. Kerana sudah terlalu lama berada di bawah Siam dan hidup dalam acuan budayanya, orang Patani kini sudah kehilangan minda dan citra Melayunya."

Buku yang meletakkan Syeikh Daud al-Fatani, disusunan pertama amat molek benar kerana jasanya dalam mengembang syiar Islam di Nusantara menerusi penulisan kitab-kitab jawi walaupun bergerak jauh di tanah Hijaz. Keberkatannya tercermin melalui kitab-kitabnya masih tidak jemu-jemu ditadah hingga kini.

Antara kitab-kitab yang masih ditadah ialah Munyah al-Musolli, Furu' al-Masail dan Minhaj al- Abidin. Keindahan sastera dapat dirasai akan karangannya. Misalnya;

"Maka aku pungut akan permatanya dan aku tanggalkan kulitnya supaya terbuka hati yang suka beribadah dan menggemarkan tiap-tiap orang yang abidin yakni yang bersungguh-sungguh pada ibadah dan menolong bagi kebanyakan orang mukmin."( Hidayah al-Muta'alim)

Patani bukan sahaja melahirkan ulama penulis kitab atau ulama yang hanya bergiat di pondok semata-mata, bahkan pernah melahirkan ulama yang berfikiran jauh dalam menjamin survival orang-orang Patani di Thailand. Siapa yang tidak kenal dengan Tuan Guru Haji Sulong? Ulama yang terkenal dengan tuntutan tujuh perkara itu terhadap kerajaan.

Tuntuntannya itu masih relevan hingga hari ini. Tidak seperti kebanyakan ulama lain, beliau boleh dianggap tokoh pembaharuan dalam masyarakat Patani terutama pendidkan. Beliau telah menubuh madrasah yang lebih bersistem seperti sekolah moden termasuk adanya aktiviti kawad atau perbarisan. Ia sesuatu yang asing kepada masyarakat masa itu yang begitu menebal dengan tradisi pondok.

Walau bagaimanapun, sekolah tersebut terpaksa "katup" atas arahan kerajaan Thai kerana prejudis niat Haji Sulong. Kehilangan secara misteri selepas bertemu dengan pegawai polis di Songhkla menjadi titik tolak kejadian kehilangan para ulama dan pemimpin Islam hingga hari ini. Sejak itu sampai hari ini masyarakat Patani kurang percaya kepada siasatan kerajaan Thai. Terdekat seperti kehilangan peguam Muslim, Somchai Neelhaipaijit.

Selain itu buku ini juga memuat tokoh yang cukup kontroversi sehingga menimbul perpecahan dikalangan masyarakat sampai wujud dua aliran masjid di Patani. Ulama yang batang tubuhnya digelar Haji Abdullah Bendang Kebun terkenal dengan kelantangan, tegas dan berani. " Kalau ia yakin pandangannya benar, ia bersedia menghadapi lawan, walaupun sampai bertarik baju,'' tegas seorang anak muridnya.

Ahmad Fathy al-Fatani, editor majalah Pengasuh banyak menulis tentang Patani dalam majalah Pengasuh dan Peristiwa (kedua-duanya terbit di Kota Bharu, Kelantan). Sebelum menghasilkan Ulama Besar dari Patani, beliau telah menulis Pengantar Sejarah Patani yang diterbitkan oleh Pustaka Darussalam, Alor Setar, pada 1994. Edisi Jawi buku Ulama Besar dari Patani ini terbit pada 2001.

Beli di:
http://pkukmweb.ukm.my/~penerbit

Rabu, April 08, 2009

Pemilik Cintaku Setelah Allah & Rasul *Baru*

Fatimah Syarha Mohd Noordin
RM12.00
Telaga Biru Sdn Bhd

Novel ringkas ini mengisahkan perjalanan hidup seorang wanita yang sangat berhati-hati dalam menetapkan pasangan hidupnya. Keimanan yang tinggi dan kepercayaan yang menyeluruh terhadap Islam membuatkan beliau menggunakan segala pendekatan Rasulullah s.a.w. untuk hanya menerima pasangan hidup yang benar-benar dapat mendidik beliau dan keluarga ke jalan rahmat. Berkat kesabarannya itu, beliau akhirnya berjaya menemui pemilik cintanya, setelah Allah dan Rasul.

Beli di:
http://www.telagabiru.net.my

Jumaat, April 03, 2009

Dahsyatnya Kesabaran Para Ulama



Menuntut ilmu memang membutuhkan kesabaran. Tanpa hal itu, tentu banyak orang yang akan mengalami kegagalan untuk meraup ilmu yang berlimpah. Dan, para ulama yang kapabilitas keimuannya tak diragukan lagi, telah membuk­tikan peran ‘kesabaran’ sebagai elemen penting dalam thalabul ‘ilmi.

Buku yang ada di hadapan anda ini menyajikan sebuah potret bercahaya tentang kesabaran para ulama dalam mencari ilmu. Dengan membaca ini, semoga nilai kesabaran yang terpancar dari kehidupan para ulama itu menjadi support yang besar bagi kita untuk belajar sabar dalam menghadapi romantika kehidupan. Terutama saat mengalami kondisi getir yang tidak mengenakkan.

Anda akan berdecak kagum menyimak rentetan kisah-kisah yang dipaparkan dalam buku ini. Betapa sebuah kemuliaan itu tidak akan bisa tergenggam dengan hidup bersantai-santai dan meninggalkan kerja keras. Termasuk untuk meraih ilmu. Segudang kesabaran mesti disiapkan, agar Allah memahamkan kita tentang ilmu-ilmu agama. Selamat membaca!

“Kisah tentang para ulama dan kebaikan2 mereka lebih aku sukai daripada banyak masalah fiqih, sebab kisah mengandungi tata cara sebuah kehidupan.” (Imam Abu Hanifah)

“Seseorang tidak akan merasakan nikmatnya ilmu sebelum ia lapar dan melupakan rasa laparnya.” (Imam Az-Zahabi)

Semoga aku bertemu dengan orang yang bertemu dengan Nabi saw atau salah seorang sahabat Nabi saw.” (Amir bin Syarahil Al-Kufi Al-Hamdani)

Imam Asy-Sya’bi pernah ditanya dari manakah beliau mendapatkan semua ilmu ini.?
Dia menjawab: “Dengan tidak berpeluk tubuh, selalu berjalan dibumi, selalu bersabar seperti kesabaran benda mati dan selalu berangkat di awal waktu seperti berangkatnya seekor burung gagak.”

Antara salah sebuah kisah dalam buku ini:

Imam Bukhari Sering Terjaga dari Tidurnya Untuk Menulis Ilmu.
Dari Ibnu katsir berkata di dalam kitabnya Al-Bidayah wan Nihayah, Jilid XI:25, tentang biografi Imam Bukhari, pemuka kaum beriman dalam bidang hadis. “Dia melakukan perjalanan kepada guru2 hadis di kota2 yang memungkinkan baginya untuk mendapatkannya. Dia menulis hadis dari seribu orang guru.

“Imam Bukhari ra pernah bangun dari tidurnya di suatu malam. Dia pun menyalakan lampu dan mencatat ilmu yang terlintas di benaknya, lalu ia mematikan lampu kembali. Kemudian, ia bangun lagi dan melakukan hal yang sama. Demikianlah, sampai hal itu terjadi lebih kurang dua puluh kali.

Kitab ini dibahagikan kepada 6 bab besar:
1.Saat menempuh perjalanan jauh untuk mencari ilmu
2.Saat tidur tak teratur dan jiwa enggan bersantai-santai
3.Mereka bersabar menghadapi kerasnya hidup dan pedihnya kemiskinan
4.Betapa pedihnya menahan lapar dan haus
5.Saat kehabisan bekalan dan tak memiliki pakaian
6.Mereka kehilangan kitab dan kadang terpaksa menjualnya

Akhir kata sebuah kitab yang sarat dengan biografi para2 ulama dalam usaha meraih ilmu.

Karena Ilmu Mereka Rela Membujang

Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah
RM19.80

Zamzam

Memilih hidup membujang karena ingin berkonsentrasi menggeluti ilmu merupakan sebuah pilihan hidup yang luar biasa. Desah-desah syahwat yang pada sebagian orang justru men­jadi raja yang menguasai hati, berhasil terpinggirkan karena dominasi cinta terhadap ilmu yang begitu menggumpal dalam relung-relung hati. Itulah sebuah catatan indah yang pernah tergoreskan dalam sejarah hidup sebagian para ulama sebagai pewaris para nabi. Imam Nawawi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Imam Ath-Thabari termasuk sebagian ulama yang ‘berijtihad’ terhadap diri mereka sendiri untuk tidak menikah karena ilmu. Dan sekali lagi, ini merupakan sebuah pilihan hidup yang luar biasa!

Buku yang ada di hadapan Anda ini memang sangat istimewa bagi para pembaca. Karena, pembahasan yang disajikan di dalamnya cukup unik dan langka. Belum banyak para ulama lain yang tertarik untuk membahas tema ini. Dan, di sinilah letak keistimewaan buku ini. Membacanya akan menjadi motivasi ‘dosis tinggi’ bagi kita, untuk secara serius mengkaji ilmu-ilmu dien.

Penulis buku ini tidak bermaksud mempropagandakan ‘hidup membujang’ sebagai sebaik-baik pilihan. Penulis hanya ingin membeberkan di hadapan para pembaca sebuah potret menakjubkan tentang semangat membara para ulama dalam menggeluti ilmu-ilmu dien. Sehingga, agar diri mereka dapat berkonsentrasi dalam menggenggam pena, mereka rela untuk tidak menikah. Subhanallah! Selamat membaca!

Beli di:
http://www.fajarilmubaru.com.my

Sungguh Mengagumkan Manajemen Waktu Para Ulama



Waktu adalah nikmat Allah yang begitu agung bagi umat manusia. Banyak di antara manusia yang terperdaya, sehingga menganggap waktu seperti angin lalu, tak memiliki peran apa-apa dalam kelangsungan hidup mereka. Hanya orang yang ‘sadar’ saja yang benar-benar mengerti arti sebuah waktu.

Berbeda halnya dengan para ulama yang memiliki predikat ‘pewaris para nabi’. Mereka benar-benar potret manusia luar biasa dalam mengelola hidupnya, terutama dalam memenej waktunya, sehingga setiap detik waktu yang ia miliki akan berbuah selaksa manfaat. Setiap relung-relung hidup mereka senantiasa memancarkan sejuta kebaikan. Dalam benak mereka, seluruh bentuk kebaikan berpangkal dari waktu. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka ia tak akan pernah menuai kebaikan.

Dalam buku ini, Syeikh Abdul Fattah mencuba mengetengahkan pernik-pernik kehidupan para ulama, terutama dari sisi manajemen waktu mereka yang begitu mengagumkan. Mereka benar-benar mengoptimalkan waktu mereka untuk ilmu. Saat makan, berjalan dan mandi pun mereka masih sempat mendalami berbagai ilmu. Bahkan, saat ajal menjemput, ada di antara mereka yang masih membahas berbagai masalah agama.

Semoga dengan kehadiran buku ini akan mampu menyadarkan kita semua tentang urgensi waktu yang kita miliki. Semoga kita mampu meneladani manajemen waktu para ulama. Bacalah buku ini, dan Anda akan mengatakan, “Sungguh mengagumkan manajemen waktu para ulama.”

Beli di:
http://www.fajarilmubaru.com.my